Sekarang ini kita telah memasuki era modern, yang mana segala hal telah berubah dari tradisional menjadi modern. Salah satunya, kita telah mencapai era revolusi 4.0. Era yang disebut sebagai periode perkembangan baru segala teknologi mencapai kemajuan daei sebelumnya. Teknologi digital menjadi bagian yang termasuk mengalami kemajuan, tak terkecuali dalam hal teknologi kesehatan.
Bidang kesehatan saat ini telah mengalami banyak perubahan besar atau pergolakan selama beberapa tahun terakhir ini dalam teknologinya. Kemajuan teknologi kesehatan tersebut mempermudah pasien ketika mengakses seluruh layanan kesehatan. Yang sebelumnya untuk berkonsultasi kesehatan hanya bisa dijangkau dengan pergi secara langsung ke dokter, kini telah bisa dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan kecanggihan dari teknologi kesehatan tersebut.
Bisa kita bayangkan atau bahkan diantra kita sudah pernah melakukannya ketika menjadi seorang pasien bisa menemui dokter hanya melalui aplikasi kesehatan online dengan smartphone kita. Hal ini juga berlaku ketika menebus resep obat daei dokter, tes laboratorium, atau melakukan rawat jalan di rumah. Itu semua dapat terjadi karena adanya kombinasi dengan layanan transportasi melalui internet. Sehingga pasien tidak perlu pergi kemana - mana untuk berobat, mencari informasi kesehatan, dan layanan kesehatan karena bisa dilakukan hanya dengan duduk santai bahkan sambil rebahan bermain ponsel pintar mereka untuk mendapatkan semua itu yang mereka butuhkan. Sudah terfasilitasi sistem online untuk kontak langsung dengan dokter, baik konsultasi, melihat atau mengubah jadwal kontrol sesuai kebutuhan hanya melalui aplikasi seluler mereka.
Sebenarnya, perkembangan teknologi kesehatan di Indonesia ini telah ada sejak tahun 1990-an dengan dikenalkannya istilah telemedicine. Yang kemudian, semakin berkembang dengan adanya rekam medis dan resep elektronik. Situs web informasi medis pun makin populer dengan menawarkan konsultasi online bersama dokter dan apotek dijangkau secara online juga. Selain itu, media sosial telah populer yang mengakibatkan pasien mudah mendapatkan informasi kesehatan.
Pelayanan kesehatan umum telah dituntut untuk lebih beradaptasi dengan teknologi modern hal ini menjadi salah satu solusi seperti pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence ((AI) di rumah sakit. Ditambah adanya pandemi ini telah membuat saya perjalanan bisnis terkait barang dan jasa menjadi lebih cepat dan akurat dengan menggunakan teknologi digital. Terkhusus pada layanan medis yang mendapat perhatian publik pasca pandemi ini tidak terkecuali. Namun, untuk melayani dan merawat pasien dengan baik menjadi semakin sulit. Pandemi pun telah menguji kemampuan hampir seluruh sumber daya kesehatan yang ada di Indonesia. Maka dari itu, pelayanan kesehatan masyarakat harus lebih sigap untuk beradaptasi dengan teknologi modern. Salah satunya dengan menggunakan kecerdasan buatan dalam rumah sakit.
Salah satu perusahaan teknologi kecerdasan buatan yang didirikan oleh anak Indonesia yaitu Arogya.id yang mempromosikan penggunaan teknologi kecerdasan buatan secara luas di rumah sakit Indonesia. Presiden Joko Widodo pun pernah mengatakan pada tahun 2018 dulu bahwa Rumah Sakit dapat menjadi Rumah Sakit pintar dengan meningkatkan perawatan dan layanan pasien sekaligus mengurangi biaya dengan membangun sistem integrasi dan penggunaan teknologi inovatif secara ekstensif. Dalam konteks Rumah Sakit pintar teknologi kecerdasan buatan ini dapat mendukung manajemen rantai pasok untuk memaksimalkan efisiensi manajemen dan operasi Rumah Sakit. Hal ini juga menunjukkan betapa pentingnya rantai pasok dalam sistem perawatan rumah sakit.
Menurut survei kesehatan kardinal supply chain rumah sakit, terdapat 65% responden yang mengakui bahwa sistem pelayanan kurang optimal yang mengakibatkan penundaan pelayanan kesehatan dikarenakan kekurangan obat maupun peralatan medis yang dibutuhkan. Namun, pelayanan rumah sakit sering memprediksi permintaan obat dan peralatan medis berdasarkan analisis statis daripada analisis dinami. Sehingga peramalan menjadi kurang akurat dan mengarah pada kelebihan atau kekurangan persediaan. Namun berkat sistem manajemen inventaris dan pemesanan berbasis kecerdasan buatan manajemen Rumah Sakit sangat terbantu dalam membuat keputusan yang akurat tentang pemesanan dan pembelian obat-obatan serta peralatan medis teknologi AI lah yang menyediakan sistem untuk terintegrasi dan lebih efisien.
Maka dari itu teknologi dalam bidang kesehatan ini diharapkan dapat mempermudah dalam memberikan pelayanan kepada pasiennya, khususnya di masa pandemi saat ini. Hal ini didukung dengan adanya teknologi artificial intelligence (AI) yang telah masuk dalam bidang kesehatan.
Melihat Perkembangan Teknologi Kesehatan di Era Digital
Teknologi kesehatan terus berkembang. Selain aplikasi kesehatan, berbagai teknologi di bidang kesehatan juga lahir untuk mempermudah pasien.
Pernah dengar istilah revolusi industri 4.0? Ini adalah periode perkembangan baru dimana beberapa teknologi, seperti teknologi digital, fisik, dan biologis, mencapai kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dari ketiganya, kemajuan teknologi digital dinilai paling besar pengaruhnya, termasuk teknologi kesehatan.
Perkembangan Teknologi Kesehatan di Era Digital
Dalam satu dekade terakhir ini, dunia kesehatan mengalami perubahan atau disrupsi yang cukup besar. Perkembangan teknologi di bidang kesehatan ini akan mempermudah pasien dalam mendapatkan layanan kesehatan.
Dulu, pasien yang harus mendekatkan diri dengan penyedia layanan kesehatan. Sekarang, penyedia layanan kesehatanlah yang mendekatkan diri ke pasien.
Bayangkan, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter hanya melalui aplikasi kesehatan daring (online) di ponsel pintar. Begitu juga dengan pemesanan obat, pemeriksaan laboratorium, dan perawatan di rumah.
Dipadu dengan jasa transportasi daring, pasien tidak perlu ke mana-mana untuk mendapatkan obat, informasi, dan layanan kesehatan. Cukup duduk sembari memainkan jemari di atas ponsel pintar.
Bahkan sekarang sudah ada sistem pembuatan perjanjian konsultasi dokter secara daring dimana pasien dapat membuat, melihat, atau mengubah jadwal konsultasi sesuai kebutuhannya hanya melalui aplikasi seluler atau via SMS.
Di Indonesia, teknologi di bidang kesehatan digital mulai berkembang di era 90-an dengan diperkenalkannya istilah telemedika (telemedicine). Yaitu, praktik pelayanan kesehatan dengan menggunakan perangkat komunikasi audio, visual, dan data untuk kepentingan konsultasi, diagnosis, perawatan, serta pengobatan.
Memasuki era milenium, teknologi kesehatan di Indonesia terlihat semakin berkembang dengan munculnya rekam medis dan peresepan elektronik. Situs informasi kesehatan juga semakin menjamur dan dilengkapi dengan fitur konsultasi daring dengan dokter secara real-time dan apotik daring.
Pasien pun semakin mudah dalam mendapatkan informasi kesehatan melalui media sosial yang populer digunakan.
Teknologi Kesehatan di Masa Depan
Fokus perkembangan teknologi kesehatan di masa depan salah satunya akan diarahkan untuk memudahkan akses pasien pada pelayanan kesehatan. Selain itu, dunia kesehatan dan kedokteran juga akan semakin canggih dengan berkembangnya beberapa teknologi berikut:
-
Artificial Intelligence (AI)
Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan memungkinkan mesin untuk melaksanakan berbagai fungsi seperti manusia. Dalam bidang kesehatan, AI dapat berupa chatbot atau asisten virtual yang bisa berfungsi sebagai administrator atau customer service.
AI juga bisa berupa mesin untuk melakukan diagnosis penyakit atau pemeriksaan tertentu. Bahkan, kini tengah dikembangkan robot untuk membantu dokter dalam melakukan operasi-operasi dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
-
Wearables atau Perangkat yang Dikenakan di Tubuh
Perkembangan teknologi kesehatan menuntut adanya data-data yang diolah agar dapat memberikan saran atau masukan yang akurat pada penggunanya.
Anda mungkin sudah akrab dengan wearables, seperti gelang pintar. Fungsi utama gelang ini dapat mengukur frekuensi dan target berbagai jenis aktivitas fisik, menilai pola tidur, serta mengukur detak jantung. Dengan ini, Anda bisa punya pengingat kala gaya hidup kurang baik.
Di samping itu, ada pula perangkat yang mampu memberikan hasil pantauan terkini pada pasien berisiko tinggi, untuk menilai peluang kejadian penyakit serius.
Misalnya, oksimeter untuk memantau jumlah oksigen di dalam darah serta sweat meter (pengukur keringat) untuk menilai kadar gula darah pada penderita diabetes.
:strip_icc():format(webp)/article/SazAFrbgiVSDsrGB8n-xB/original/045722700_1480403677-Perkembangan-Dunia-Kesehatan-Digital-di-dunia.jpg)
-
Perangkat Medis Berbasis Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR)
Pada 2018, kemunculan teknologi kesehatan berbasis AR dan VR mengubah cara pasien dirawat dan diobati. Bagi anak-anak dengan autisme, misalnya, teknologi ini membantu mereka belajar bagaimana menjelajahi dunia.
Bagi pasien Alzheimer dan demensia, teknologi AR dan VR bisa membantu memunculkan kembali ingatan dan kesenangan dengan mengembalikannya ke waktu, suara, pengalaman dan peristiwa penting di masa lalu.
Dalam bidang pendidikan medis, teknologi ini membantu para dokter dalam mengasah keterampilannya. Misalnya, untuk mempersiapkan dan simulasi operasi yang rumit, tanpa harus dipraktikkan pada manusia.
-
Blockchain
Bila harus berganti dokter atau dirujuk ke spesialis, Anda tahu betapa rumitnya mentransfer riwayat medis yang sudah ada. Namun, dengan teknologi blockchain, proses ini bisa diotomatisasi.
Dokter pun bisa melihat riwayat medis pasien secara lengkap sehingga Anda bisa segera mendapat perawatan dan pengobatan yang diperlukan.
Tantangan dalam Perkembangan Teknologi Kesehatan
:strip_icc():format(webp)/article/7DiYhqyoMdjgMuOmlVmrL/original/098336300_1583468554-Tantangan-dalam-Perkembangan-Teknologi-Kesehatan-shutterstock_1546419956.jpg)
Sejatinya, kemajuan dalam teknologi kesehatan memiliki tujuan utama, yaitu mempersingkat berbagai proses layanan kesehatan yang rumit dan memakan waktu. Akan tetapi, pelaksanaannya tidak sesederhana itu.
Meski tak sering, ada kasus-kasus di mana kemajuan teknologi ini berbenturan dengan masalah etika medis. Bisa jadi karena memang berbagai pemangku kebijakan terkait tidak siap dengan cepatnya perkembangan yang ada.
Seperti di Indonesia, pemerintah sebetulnya mendukung layanan kesehatan digital. Namun, hal ini tidak dibarengi dengan kecepatan dalam mengeluarkan regulasi atau kebijakan terkait.
Selain keamanan, kepemilikan data, aspek privasi, berbagi data, serta perizinan, perlu dipikirkan juga bagaimana upaya perlindungan konsumen. Karena perkembangan teknologi kesehatan berbasis digital bersifat terbuka, para pemangku kebijakan sangat perlu bertindak cepat untuk mengantisipasi hal ini.
Perkembangan teknologi kesehatan sesungguhnya berdampak signifikan pada akses layanan kesehatan. Namun demikian, semua ini harus diimbangi dengan kebijakan dan aturan main yang sesuai untuk melindungi penyedia layanan kesehatan dan pasien.
- digitalbisa.id
- klikdokter.com





